Bulan Ramadhan adalah bulan dimana kaum mukminin di wajibkan untuk berpuasa. Tapi apakah sebenarnya puasa itu?
Sudah sering para ulama menyampaikan bahwa puasa Ramadhan itu adalah latihan menahan hawa nafsu, dan kita pun sudah sering mendengar wejangan itu. Tapi apakah kita udah berpuasa..?!?
Menahan hawa nafsu atau hanya sekedar mengalihkan aktu makan siang kita ke malam?? Menahan hawa nafsu di siang hari atau hanya mengalihkannya ke malam hari?? Kita sendirilah yang tahu, dan tentunya Gusti Allah jauh lebih tahu dari diri kita sendiri.
Tapi jangan lupa, puasa Ramadhan hanyalah sekedar sarana latihan, dan Idul Fitri itu bukan akhir dari ibadah puasa!! Mengapa demikian? Karena sesungguhnya puasa yang lebih berat adalah ada di 11 bulan lainnya selain bulan Ramadhan!!!
Jika di bulan Ramadhan suasana tentu sangat mendukung, tapi di 11 bulan lainnya jangan harap. Dan Jangan lupa, jangan hancurkan hasil latihan menahan hawa nafsu kita hanya karena tradisi mudik lebaran. Jangan paksakan diri jika itu lebih banyak mudharatnya, dari berbagai faktor.
Mumpung ini bulan puasa, ingat: Latih lah hawa nafsu sebaik-baiknya, aplikasikan di luar bulan Ramadhan!
Selamat Hari Raya Idul Fitri...
KamikazE
Surfing the Net with Spirit!!
Monday, August 22, 2011
Petualanganku..
Pengalaman masing-masing individu adalah unik dan tidak akan terulang oleh yang lainnya. Dari setiap keunikan yang dialami pastilah ada berkah di balik itu, “Blessing in Disguise” begitulah menurut bahasa wong “Londo”.
Salah satu keunikan yang diriku alami adalah perjalanan ke sebuah negeri nun jauh di selatan. Tempat dimana photo di sebelah kiri ini ku ambil. Unik dan banyak makna di balik bentuk patung ini. Menceritakan seorang prajurit di masa perang dunia kedua yang menjadi pahlawan besar bagi negara bukan karena keahliannya bertempur, namun jadi pahlawan besar negaranya justru karena banyak sekali menyelamatkan nyawa temannya.Inilah cuplikan dari Australian War Memorial mengenai pahlawan besarnya di perang dunia ke 1 :
“John Simpson Kirkpatrick was born in Britain but later moved to Australia. In August 1914 he enlisted in the Australian Imperial Force, serving at Gallipoli the following year as Private John Simpson in the 3rd Field Ambulance, Australian Army Medical Corps. He served from the time of the landing at Gallipoli on 25 April until he was killed in action on 19 May.
Simpson became famous for his work as a stretcher-bearer. Using one of the donkeys brought in for carrying water, he transported wounded men day and night from the fighting in Monash Valley to the beach on ANZAC Cove. He did so, according to Charles Bean, through ”deadly sniping down the valley and the most furious shrapnel fire”. He was killed by machine-gun fire while carrying two wounded men and was buried on the beach at Hell Spit.
The war diary of the 3rd Field Ambulance commended “the excellence of the work performed by Pte Simpson continuously since landing”. Simpson was posthumously Mentioned in Despatches. His first donkey was known as Abdul, Murphy, or Duffy.”
Hanya kurang dari 1 bulan andilnya dalam perang di Pantai Galipoli diikutinya namun namanya harum hingga hampir 1 abad kemudian. Sejarah tersebut mengingatkanku akan pepatah : “Hal istimewa dimulai dari hal-hal biasa”. Saya setuju! Apa yang dilakukan John Simpson adalah hal yang biasa, bukan luar biasa, namun karena ikhlas dan istiqomah maka jadilah hal tersebut istimewa.
Surfing the Net with Spirit
Sesuai judul.. berselancar lah di alam digital ini dengan bersemangat namun bertanggung jawab.
Siapa yang bisa mengendalikan itu, siapa lagi kalau bukan kita sendiri!! Mareeee....
Siapa yang bisa mengendalikan itu, siapa lagi kalau bukan kita sendiri!! Mareeee....
Subscribe to:
Posts (Atom)
